Saturday, November 3, 2012

Entah

Ajari aku untuk menjadi dia.
agar selalu kau dambakan tanpa harus kurisaukanmu.

Tapi, sesekali..
kau harus belajar menjadi aku
agar kau rasa betapa menyedihkan mendambakanmu

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.
Tapi aku bukan daun
Aku tidak sebodoh daun

Mungkin aku adalah pohon
Aku adalah alasan hingga kau bisa bernapas sampai saat ini
Aku donatur oksigen terbesar di sistem pernapasan mu.

Tapi apa yang kau lakukan pada pohon ini?
Kau bahkan tak sudi lagi menyempatkan waktu untuk sekadar menyiram akarku.
Untuk melihat keadaanku
adakah kau resah akan gersangku saat ini?

Aku tahu waktu mengubah segalanya.
Tapi bila sempat, coba kau tengok pohon ini sebentar.
Coba kau lihat akarku.
Aku sudah terlalu lelah.
Aku lelah berfotosintesis untukmu

Aku rindu dulu,
saat aku adalah tempatmu mencari oksigen yang utama.
saat aku adalah tempat favoritmu untuk berteduh.

Apa yang terjadi padamu?
Pada kita mungkin?
Apakah kau menjadi seperti orang kebanyakan?
Yang mulai lelah bersahabat dengan pohon
Atau kau mulai menemukan pohon yang baru?
yang lebih rindang dariku

Jangan salahkan aku
Pemanasan global bukanlah keinginanku

mungkin ini klimaks dari segalanya.
titik didih dari segala pengkhianatan

Apakah daun yang jatuh benar-benar tidak membenci angin?
Pernahkah kau memikirkannya?

Dwi Putri Nursetyaningsih



No comments:

Post a Comment