Tuesday, July 1, 2014

Sebuah cerita tentang biasa.

(Di suatu hari, hanya beberapa hari setelah dua orang yang terbiasa bersama memutuskan untuk berhenti mencipta bahagia. Entah karena apa.)

Yang menyebalkan dari sendiri itu, lelah yang yang tak bisa dibagi.
Ini semakin sulit ketika aku sudah begitu biasa dengan keberadaanmu sehingga ketidakberadaanmu seperti nyaris membuatku tersesat.
Biasanya, saat sebegini lelahnya pasti tetap indah karena kau tak pernah lelah menyimak setiap keluhan membosankanku.
Malah, ada beberapa masa dimana aku mencoba menyibukkan diri. Mencari-cari alasan untuk lelah. Agar kau ada disana.
Seperti biasa, hanya menyimaknya.

Iya, aku rindu kamu.
Apakah kamu merasakan efek yang sama atas perjanjian ini?
Maaf untuk terlalu melankolis di siang terik ini.

Tuesday, June 3, 2014

Tidak Perlu Dibaca

Saya belajar satu hal hari ini.

Apa yang lebih menyakitkan dari cinta diam-diam yang tak bisa terucap dan terpaksa harus disimpan rapat selama sewindu?
Saya beri tahu kalian, rasa benci yang masih segar yang terpaksa dipendam rapat-rapat. Ketika kita memilih untuk melontarkan senyum segan padahal saraf kita berontak ingin mengumpat.
Itu baru sakit. Itu baru membunuh pelan-pelan.

Hidup ini lucu, teman.

Cita Sejati Itu Apa? Ada?

Ketika kita berikrar pada satu nama.
Ketika terucap janji untuk menjaga dan menerima.
Ketika definisi kita menjadi selamanya.
Ketika berani mengucap sumpah atas nama hukum dan agama.

Harusnya kita setia. Harusnya.

Monday, May 26, 2014

Postingan di Tengah Kejenuhan Variabel Keparat.

Saya banyak dosa.
Saya tahu itu.
Saya tahu apa itu ampun.
Tapi apa ampun itu cukup?

Feeling so right doing something wrong.
Feeling so wrong doing something right.
Oh, Manusia.
Nikmat manalagi yang kau hendak dustakeun?


Oh ya, doakan saya segera lepas dari ikatan TA ini. (Jangan dibaca terlalu cepat)

Have a good good life, people!