Saturday, July 13, 2013

Tentang Hal yang Tidak Ingin Kalian Ketahui.

Tentang Hal yang Tidak Ingin Kalian Ketahui....karena aku tahu kalian bosan mendengar namanya,
Hey, tidakkah kalian tahu aku bahkan kadang bosan menyebut dan mengingatnya?
Tidakkah kalian tahu ini menyiksa?


Halo, blog!
Iya aku tahu, aku salah karena tak pernah lagi mengunjungimu. Bahkan sekadar melihat dashboardmu. Tapi kau kan tahu aku, blog. Aku orang yang oportunis. Aku mengunjungimu jika aku ada masalah saja. Jika ada hal yang ingin kucerita, tapi terlalu malas untuk menceritakannya kepada siapapun yang berwujud manusia. Terlalu malas melihat respon kebosanannya, karena kau tahu? sesungguhnya ini tentang orang yang sama dan sama lagi. Seseorang yang dalam beberapa post sebelum ini, aku berjanji untuk tidak akan lagi membuat postingan tentang dia lagi. Sepertinya aku mengulang kata lagi, ya?
Iya, aku tahu aku melanggar. Tapi, kau kan tahu aku, blog. Aku orang yang sangat labil....dan pelupa. Jadi mari membuat kesepakatan. Anggap saja yang sekarang aku sedang melupakan postingan beberapa waktu yang lalu itu, oke? Ayolah, lagipula perjanjian ini aku sendiri yang membuatnya. Dan bagian yang paling menyenangkan adalah tidak ada sangsi. Yeah. Harusnya kau tahu itu modus sejak ku-posting beberapa waktu yang lalu tanpa membuat sangsi.
  "Dan kenapa saya sangat sentimentil di postingan ini? Ya, karena ini akan menjadi postingan terakhir tentang kamu."
Hahaha, harusnya kau sadar  itu terlalu drama dan memang aku sengaja  tidak ada sangsi agar aku bisa leluasa melanggar suatu hari, seperti sekarang. Lagipula ini masalah perasaan bukan kebijakan. Apa kita benar-benar butuh sangsi? Oh, syukurlah aku tidak pernah berpikir mengambil fakultas hukum dulu.

Sabtu, 13 Juli 2013. 5 Ramadhan. 09.58am.
Aku baru terbangun dari tidur setelah sebelumnya melewatkan sahur karena terbangun bertepatan dengan adzan subuh. Setelah shalat dan jalan keliling rumah    aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya    aku kembali mencoba untuk tidur, tolong jangan ditiru. Beberapa artikel mengatakan bahwa tidur setelah sahur tidak baik untuk kesehatan. Tapi aku tidak peduli, aku mengantuk. Anggap saja aku sedang lupa bahwa aku mahasiswi kesehatan masyarakat.

Dan sekarang aku kembali terbangun dengan perasaan yang sangat tidak enak. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku merasakan seperti ini.
Aku memimpikannya, blog. memimpikannya    sengaja diulang biar deramah    Sial, banyak sekali orang dalam kehidupanku dan kenapa harus dia? Orang yang menyebabkan doaku tidak dikabulkan Allah, tidak masuk surga, dan tidak dirahmati Allah karena memutuskan tali silaturahim. Setidaknya itu yang selalu seseorang katakan padaku atas sikapku memutuskan segala akses komunikasi dengannya. Yang selalu kubalas dengan pembelaan kalau aku selalu mendoakannya agar baik-baik saja dan memang    untuk saat ini    aku rasa itu yang terbaik. Karena untuk saling menjangkau, sungguh terlalu menyiksaku.

Jadi biar kuvisualisasikan mimpiku tadi sebelum aku melupakannya karena aku punya masalah dengan ingatan (ya, aku terlalu sering mengatakannya)
Kau tentu pernah bermimpi kan? Oh, aku lupa kalau kau blog. Boro-boro bermimpi, perasaanpun kau tak punya. Kalau begitu kau, orang asing yang kebetulan membaca ini, kau tentu pernah bermimpi kan? Pasti kau paham susunan mimpi biasanya abstrak. Orang dan tempat berbeda biasanya berada dalam satu set.

Jadi ceritanya aku baru saja pulang dari PBL (pengalaman belajar lapangan) dan berkumpul di lapangan parkir mengumpulkan koper, menunggu jemputan. Anehnya yang aku lihat bukan lapangan parkir UIN, kampusku. Melainkan lapangan parkir Unhas. Aku ada disana dengan entahlah mungkin teman seangkatanku. Aku lupa. Semua terlalu samar-samar. Yang pasti, entah bagaimana bisa ada Inoy, Irma, Emi, dan Rere disana. Kami sedang menuju ke kantin setelah melakukan, ah, maaf aku lupa. Kita skip saja bisa kan? Jadi yang aku ingat kita sedang menuju kantin dan tiba-tiba settingan kantinnya menjadi kantin SD IKIP, SDku dulu. Kita masing-masing membeli pentolan, makan, membahas hal tidak penting, dan tertawa. Seperti biasanya. Setelah itu yang kuingat aku kembali berada di lapangan parkir Unhas itu. Entah apa yang terjadi, pada saat aku ingin berjalan menuju koperku, aku melihatnya disana. Berdiri bersama dua temannya yang juga kakak kelasku dulu.

Dia ada disana berdiri dan sedang bercanda dengan dua temannya itu. Dan aku merasa. Ah, aneh. Perasaan yang sama ketika dulu di sekolah, aku tidak sengaja melihatnya melintas di depan kelasku. Ketika aku tidak sengaja sedang bersandar di balkon depan kelas dan melihatnya bermain bola bersama teman-temannya. Ketika kami tidak sengaja berpapasan di koridor sekolah. Sial. Perasaan yang tidak pernah ingin kuulang. Salah, Ingin kuulang sih tetapi bukan karenanya.

Baiklah, ada satu hal yang ingin kuakui disini, yang mungkin tidak ada yang tahu kecuali Nishong. Aku pernah mencoba dengan orang lain    setelahnya. Semua nyaris sempurna. Ucapan selamat pagi saat baru bangun, ucapan mimpi indah saat ingin tidur. Bahkan lebih sering ketiduran karena keasikan membicarakan banyak hal. Saling terlarut dalam percakapan tidak penting pengantar tidur, dan hal-hal menjijikkan lainnya yang lazim dilakukan oleh dua orang yang memiliki kromosom berbeda. Ya, kau tahulah. Siklus itu. Awalnya menyenangkan bersama seseorang yang bahkan lebih menghapal jadwal kuliahmu dibanding dirimu sendiri. Tapi lama kelamaan, semua terasa hambar dan aku tahu aku tidak bisa melakukannya. Maka aku menghentikannya. Sebelum aku merasa terlalu jahat dengan orang ini.

Tadi, melihatnya berdiri dan ketawa    dengan caranya yang khas    bahkan lebih membuatku......deg-degan? Sial, ini bahkan hanya mimpi. Aku pun berjalan lurus menuju koperku dan menembus gerombolan manusia yang mungkin teman seangkatanku. Aku tidak begitu ingat, yang aku lihat disana sangat ramai dan hanya sosoknya dan dua orang temannya itu yang terlihat jelas. Aku berjalan dan berusaha tidak terlihat.

"Put..."
Suara teriakan yang sangat kuhapal. Yang dulu selalu kudengar ketika aku berjalan menuju kantin. Dan mereka, dia dan teman-temannya, itu sedang nongkrong di samping masjid. Suara milik salah seorang temannya. Aku terus berjalan berusaha tidak memperdulikannya. Tetap berjalan lurus menuju koperku. Sial, kenapa koper itu terasa sangat jauh?

"Put..."
Suara teriakan itu lagi. Aku menyerah dan berbalik. Yang aku lihat, tetap tiga orang laki-laki yang sedang melihat ke arahku sambil ketawa entah karena apa. Tapi bukan tiga orang yang tadi. Tetap ada dua orang temannya dan entah bagaimana ada satu lagi temanku (teman SMA yang tahu segala aibku tentang dia) tiba-tiba berdiri disana, menggantikan posisinya tadi. Kemana perginya dia? Aku berusaha terlihat santai dan menjawab dengan malas "Kenapaki sde deh!" Itu logat makassar, asalku. Kurang lebih maknanya sama dengan Kenapa lagi sih.

"Siniko dulu!!" Panggil mereka. Persis caranya biasa memanggilku dulu ketika perjalanan ke kantin yang kuceritakan tadi. Yang biasanya hanya berakhir percakapan tidak penting dan pertanyaan konyol dari mereka. Tapi aku selalu menyukainya. Karena itu cara lain untuk bisa melihatnya dari jarak yang lebih dekat.

"Mddh, Malaska" Jawabku tidak antusias.

"Ngapami ine, sini saiko!" Kata temanku yang tiba-tiba bergabung disana.

Akupun mengalah dan melangkah dengan malas ke arah mereka. Paling dijadikan bahan permainan lagi, batinku.

Ketika aku melangkah ke arahnya, sperti ada yang mengikuti langkahku di belakang. Dekat sekali. Aku bahkan dapat merasakan bunyi napasnya. Aku berbalik untuk mengecek dan benar saja, dia. Sekarang tatapan kami bertemu dan dia tersenyum. Senyum itu, Astaga. Aku bahkan lupa kapan terkahir kali kami sedekat ini dan dia tersenyum seperti itu kepadaku. Jantungku seperti mau copot. Demi Tuhan itu terasa sangat nyata. Perasaan yang sudah lama sekali tidak kurasakan. Tidak dengan siapapun. Hanya dia yang bisa membuatku deg-degan seperti ini. Aku seperti kembali ke usia 16. Dia tetap saja begitu, tersenyum. Aku tidak menanggapinya. Aku kembali memalingkan tatapanku ke depan dan kembali berjalan ke arah tiga orang itu. Semakin aku berjalan, yang kurasa semakin dia mengikutiku. Oh, Tuhan, bisa jarak ini dibuat lebih jauh agar aku bisa lebih lama diikutinya. Sial, aku bahkan masih mengharapkan hal-hal seperti itu.

Aku berjalan..berjalan..dan sampailah di mereka. Aku lupa apa percakapanku. Oh, sial. tadi aku mengingatnya. Mungkin aku terlalu lama mengetik ini semua. Yang jelas, dua kakak kelasku dan temanku itu menanyakanku pertanyaan-pertanyaan konyol, seperti biasanya. Dan dia? jangan tanya. Dia hanya diam di belakangku tetap dengan senyumnya dan sesekali ketawa karena menyimak percakapan. Oh, Tuhan, kenapa dia hanya diam? Tidak sekata pun yang dia ucapkan. Aku sangat merindukan suaranya. Sial, apa yang baru saja kukatakan? Hahaha.

Dan entah kenapa aku tiba-tiba kembali berada dengan irma, emi, dan banyak lagi yang tidak begitu jelas. Aku tidak melihat rere dan inoy. Tidak tahu kemana perginya mereka, jangan tanya. Ini kan cuma mimpi.

"Printernya siapa itu puthe?" tanya salah seorang teman posko ku. Entahlah aku tidak begitu mengingatnya. Kalau bukan Akmal depertinya Dhika.

"Printernyaa....siapa di'?" Bahkan di mimpi pun aku pelupa.

"Printerku." Jawab Irma dengan ekspresi yakin. Ekspresi yang sama persis ketika dia mengatakan arogan itu sombong.

"Oh, iya. Printernya Irma..." Jawabku kepada teman posko ku. Irma kemudian terlihat menahan ketawa. Kenapa? Apa yang lucu?

"Printerku kah?" Tanyanya dengan ketawa yang ditahan.

"Ih?" Jawabku kebingungan. "Printernya siapa pae?" Tanyaku kembali.

"Printernya Ikbal, tolooo!" Sahut Irma dan Emi bersamaan. Disusul dengan ledakan tawa dari mereka. Akupun ikut ketawa. kami bertiga ketawa. Aku bahkan tidak tahu apa yang begitu lucu tapi kami semua ketawa. Ketawa dengan lepas. Siapa pula ikbal itu? Mimpi yang aneh.

Aku pun berbalik, mencari sosoknya. Tapi dia sudah tidak ada. Mereka sudah tidak ada. Hanya ada pohon besar, dan beberapa pete-pete yang mengangkut kami tadi, serta kerumunan orang yang masih tidak terlihat jelas. Sangat ramai yang aku lihat. Tapi dia tidak lagi ada. Tidak tahu kemana perginya mereka, jangan tanya. Ini kan cuma mimpi.

Yang aku ingat, ramai sekali, ramai. bising. Tapi kenapa aku terbangun dengan merasa sepi?






Dan sekarang aku disini. Di pojok melek mencoba mentransfer dimensi mimpi menjadi dimensi aksara sebisaku. Aku masih ingat bagaimana perasaanku sangat bangun tadi. Sunguuh tidak enak. Yang perlu kau tahu, blog. Sudah lama aku tidak memperdulikannya. Dia sudah tidak begitu penting bagiku. Aku serius. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku 'singgah di timeline'nya. Cara yang selalu kulakukan untuk menebus dosa memutuskan silaturahimku. Aku rasa memang betul, waktu adalah obat yang paling ampuh untuk segalanya.

Pidi baiq seperti tidak capek menyanyikan bunyi sepi berulang kali dari blackberryku.


Aku disini tak ingin rindu, tentang banyak hal menyangkut dirimu.
Tak mau tahu apa kabarmu, tetapi kau usik sunyiku.Tak mau tahu siapa denganmu, tetapi kau ganggu diamku.


Mungkin lirik sunyi dan diam lebih cocok bila kuganti tidur. Hahaha, aku memang suka mendramatisir beberapa hal.

Sedang bingung menentukan baru saja mimpi buruk atau indah,
-poetry-