Tuesday, June 19, 2018

R E C E N T

Sempat menengok postingan saya di ramadhan tahun yg lalu tentang orang-orang yang berjalan terlalu cepat.
Dan di ramadhan tahun ini (sudah lewat bahkan), saya masih stuck dengan perasaan itu.

Terlalu banyak hal yang terjadi yang sy tidak sempat share disini. Terlalu pandai menyimpan sendiri. Terlalu akrab dengan rahasia. 

Tapi entah kenapa, di post ini, hanya mau bilang terima kasih untuk erfan sroyer. Laki-laki yang selalu ingin kukenalkan pada dunia, tapi tidak bisa. karena kita berbeda dan itu tidak baik bagi mereka. 

Sungguh, untuk semua hal yang membuatku selalu ingin lari, hanya dia yang selalu ada disana. tidak menggurui. tidak menghakimi. tidak juga dengan kata-kata puisi.

dia hanya ada. dengan segala sederhana yang kemudian kukenal sebagai bahagia.



Tidak tahu kemana takdir akan membawa kami, tapi untuk saat ini, menjalani saja terasa sangat istimewa.


Sunday, November 27, 2016

Sunday, June 12, 2016

Orang-orang yang berjalan terlalu cepat atau saya yang jalan di tempat?
Si anu married.
Si ini got scolarship.
Si ini pregnant already.
Si ina keterima kerja di inu.
Si ono jilbab besar loh skrg.

Bukan tidak bisa ikut berbahagia akan kebahagian orang lain. Demi Tuhan senang sekali tahu orang yang kita kenal got their happiness. Hanya saja, ada secuil rasa dalam diri ini yang desperately want to join the show. Stealing a spotlight. Mungkin sudah terlalu asing sama diri sendiri, ya? Atau mungkin cuma kurang sabar, ya? Where have you been, put?


Gosh, This must be hormones typing.


Selamat puasa :)

Monday, February 29, 2016

Terima kasih untuk buat aku akrab dengan proses. 

Wednesday, May 20, 2015

Dear, E (2)

No matter how much we argue, fight, regret. You're always be my half. Thank you for complete me. We will rockin' this life together ������

Monday, May 4, 2015

At the end of the day.

I'm so lucky to have you, e.
��

Monday, April 20, 2015

Dear, E

Thankyou for staying and always understanding. Eventough, sometimes I turn into an awful lover. We will survive this. As long as we both tryin' ��

Tuesday, April 7, 2015

Pesan Semesta

Tanpa kita sadari, segala pertanyaan dalam kepala kita seringkali dijawab oleh semesta lewat sesuatu yang bernama 'kebetulan'

Kebetulan, akhir-akhir ini waktu luang saya sedang berlebih.
Kebetulan, akhir-akhir ini saya sering melakukan hal hal yang agak di luar nalar.
Suatu ketika, saat sedang menunggu antrian di bank, saya mencari akun instagram mbak teller di depan saya. Entah atas dasar apa. Kabar buruknya, akunnya terkunci.

Kita semua pasti punya dirty lil' secret. Rahasia yang memalukan. Saya punya itu di kolom search history youtube saya.
Suatu ketika, saat sedang melihat acara hitam putih di youtube, waktu itu bintang tamunya yuni shara. (jangan tanya, kenapa saya bisa sampai disitu)
Ada percakapan seperti ini:
Deddy Corbuzier: Lalu apa yang membuat yuni shara bisa tegas memutuskan bahwa ini harus selesai?
Yuni Shara: Saya tidak mau menua dengan urusan yang tidak penting.

Straight to the point, mbak yun. Meskipun tidak sedikitpun saya mengidolakanmu, tapi ya, terima kasih untuk percakapan itu.

Saturday, February 14, 2015

Teruntuk kau gadis malang.

Siapa yang bilang the one adalah orang yang bisa menjadi kekuatan serta kelemahanmu? Terkutuklah dia.
Siapa yang bilang the one adalah orang yang bisa menjadi tempat berteduh sekaligus hujan deras mu? Terkutuklah dia.
Siapa yang bilang bahwa cinta itu itu memang perjuangan? Terkutuklah dia.
Siapa yang bilang bahwa cinta itu bersabar, bersabar, dan bersabar? Terkutuklah dia.
Siapa yang bilang bahwa cinta itu ketika semua tawanya adalah bahagiamu dan tangisnya adalah sakitmu? Terkutuklah dia.
Siapa yang bilang bahwa cinta itu adalah memaafkan? Terkutuklah dia.

Seorang gadis mulai bersahabat lagi dengan cinta dan mulai meninggalkan kesendirian. Ini adalah pertaruhan besar buat dia. Semua indah, pada awalnya. Dan demi Tuhan, pria ini adalah anugrah, saat itu. Gadis ini pun luluh dan berani berikrar pada satu hati, pria itu. Ini adalah anugrah sekaligus bencana. Sebab ada fase dimana gadis itu tahu, bahwa dia tidak sedang bercanda. Dan ini sungguh bencana, sebenarnya.

Ada satu fenomena yang sampai saat ini gadis itu tak tahu apa alasannya. Bahwa wanita selalu satu langkah di depan laki-laki. Laki-laki selalu tahu cara membuat wanita masuk ke jalurnya, dan menyamakan langkah. Tapi tunggu beberapa saat, jika kamu beruntung, kamu yang selanjutnya menuai keberhasilan karena berhasil melalui jalur itu bersama-sama. Namun, jika laki-laki ini cerdik, dan wanita ini bodoh, tunggu pada fase yang dinamakan bencana. Fase dimana laki-laki mulai melambat, dan wanita harus bersusah payah menyamakan langkah. Dan percayalah, ini sungguh melelahkan namun sebagian dari hati kamu tetap ingin melakukannya, karena keindahan pada awal yang ditawarkan laki-laki ini, sungguh membuatmu kuat. Kasihan sekali, dia lupa kalau tak ada yang abadi.

Gadis ini tahu mereka telah ada disana. Fase bencana itu. Namun atas nama cinta dan kata-kata sampah di atas, gadis ini bertahan. Melambat, menyamakan langkah, dan mulai membuat pemakluman-pemakluman di atas pemikiran "dia pantas untuk ini".

Jatuh cinta sungguh pertaruhan yang besar. Dan gadis ini sedang bertarus di atas segala investasi waktu, perasaan, dan bahkan yang terparah, kebergantungan. Berkali-kali ingin melepas genggaman dan melangkah sendiri, tapi gadis ini tahu, sebagian kekuatannya terlanjur terkuras untuk menyamakan langkah. Dan bila memang dia harus melangkah sendiri, bagaimana bisa? Disaat yang dia tinggalkan adalah energi terbesarnya?

Teruntuk gadis malang ini, cinta sesungguhnya adalah energi. Kekuatan itu ada pada cinta, bukan pada orang yang sedang bersamamu. Percaya pada hatimu, keraguan pasti ada dalam suatu hubungan, namun pemakluman yang terus menerus adalah sebuah kesalahan. Aku percaya, kau adalah gadis yang cerdas, namun kita tidak bisa pungkiri, memang terkadang cuma cinta yang bisa membuat einstein sekali pun menjadi bodoh. Tidak apa menjadi bodoh untuk cinta, tidak tidur untuk menemaninya terjaga. Berbohong seperti anak smp dengan alasan kerja kelompoknya hanya untuk menghabiskan waktu makan nasi goreng pinggir jalan yang selalu terasa mewah tiap bersamanya. Liburan yang spontan ke Malino dan menembus jalan pulang yang gelap gulita di tengah hujan deras, kamu bahkan terjatuh di tengah perjalanan karena lubang tertutup oleh genangan air dan tetap menertawakan luka baret di kedua lutut kalian. Menghukum pasanganmu dengan membuatnya jalan kaki dari faisal ke hertasning tapi kamu bahkan menguntitnya dengan motor yang mati-matian kau gas rendah.

Biarkan semua itu terjadi, lakukan jika memang berkorban untuknya adalah hal yang membuatmu bahagia. Lakukan, lakukan dan terus lakukan. Agar kau segera tiba di fase selanjutnya. Fase yang membuat kamu lelah dan mulai berhenti sejenak. Memikirkan apa yg selama ini kamu lakukan dan jalani? Menimbang kembali pemakluman "dia pantas untuk ini" yang pernah kau agung-agungkan. Dan kemudian kau mulai menemukan jawaban atas segala keraguanmu dahulu. Kemudian kau pun sadar, energi itu ada pada cinta, bukan padanya. Energi tidak dapat dimusnahkan. Jadi jangan pernah bermimpi untuk menghilangkan cinta itu. Tapi, energi bisa disalurkan. Selalu ada hal yang bisa kau cintai. Tidak melulu tentang makhluk berkromosom XY.

Coba lihat di sekitarmu. Coba ingat apa yang telah kau tinggalkan dan taruhkan sebelumnya untuk bersamanya. Orang tuamu? Saudaramu? Sahabatmu? Atau yg terparah, dirimu sendiri? Salurkan cintamu. Kamu mungkin akan menangis di tengah-tengah bersepeda siang bolongmu yang sengaja kau lakukan hanya untuk mengalihkan perhatianmu dari menengok ke handphonemu. Tidak apa, itu alamiah. Kamu mungkin akan merasa sesak saat kau sedang menyetir karena radio tiba-tiba memutar lagu yang pernah kalian nyanyikan bersama, tidak apa, itu adalah bekal menjadi lega. Atau yang paling mengganggu, kamu mungkin akan terbangun di tengah tidurmu karena secara sangat tidak kau inginkan dia muncul di mimpimu, tidak apa, itu akan membuatmu lebih kuat.

Haha, apalah saya ini, teori seratus, praktik nol.

Teruntuk kau gadis malang, kamu tidak sendiri.

Tuesday, July 1, 2014

Sebuah cerita tentang biasa.

(Di suatu hari, hanya beberapa hari setelah dua orang yang terbiasa bersama memutuskan untuk berhenti mencipta bahagia. Entah karena apa.)

Yang menyebalkan dari sendiri itu, lelah yang yang tak bisa dibagi.
Ini semakin sulit ketika aku sudah begitu biasa dengan keberadaanmu sehingga ketidakberadaanmu seperti nyaris membuatku tersesat.
Biasanya, saat sebegini lelahnya pasti tetap indah karena kau tak pernah lelah menyimak setiap keluhan membosankanku.
Malah, ada beberapa masa dimana aku mencoba menyibukkan diri. Mencari-cari alasan untuk lelah. Agar kau ada disana.
Seperti biasa, hanya menyimaknya.

Iya, aku rindu kamu.
Apakah kamu merasakan efek yang sama atas perjanjian ini?
Maaf untuk terlalu melankolis di siang terik ini.

Tuesday, June 3, 2014

Tidak Perlu Dibaca

Saya belajar satu hal hari ini.

Apa yang lebih menyakitkan dari cinta diam-diam yang tak bisa terucap dan terpaksa harus disimpan rapat selama sewindu?
Saya beri tahu kalian, rasa benci yang masih segar yang terpaksa dipendam rapat-rapat. Ketika kita memilih untuk melontarkan senyum segan padahal saraf kita berontak ingin mengumpat.
Itu baru sakit. Itu baru membunuh pelan-pelan.

Hidup ini lucu, teman.

Cita Sejati Itu Apa? Ada?

Ketika kita berikrar pada satu nama.
Ketika terucap janji untuk menjaga dan menerima.
Ketika definisi kita menjadi selamanya.
Ketika berani mengucap sumpah atas nama hukum dan agama.

Harusnya kita setia. Harusnya.

Monday, May 26, 2014

Postingan di Tengah Kejenuhan Variabel Keparat.

Saya banyak dosa.
Saya tahu itu.
Saya tahu apa itu ampun.
Tapi apa ampun itu cukup?

Feeling so right doing something wrong.
Feeling so wrong doing something right.
Oh, Manusia.
Nikmat manalagi yang kau hendak dustakeun?


Oh ya, doakan saya segera lepas dari ikatan TA ini. (Jangan dibaca terlalu cepat)

Have a good good life, people!

Saturday, July 13, 2013

Tentang Hal yang Tidak Ingin Kalian Ketahui.

Tentang Hal yang Tidak Ingin Kalian Ketahui....karena aku tahu kalian bosan mendengar namanya,
Hey, tidakkah kalian tahu aku bahkan kadang bosan menyebut dan mengingatnya?
Tidakkah kalian tahu ini menyiksa?


Halo, blog!
Iya aku tahu, aku salah karena tak pernah lagi mengunjungimu. Bahkan sekadar melihat dashboardmu. Tapi kau kan tahu aku, blog. Aku orang yang oportunis. Aku mengunjungimu jika aku ada masalah saja. Jika ada hal yang ingin kucerita, tapi terlalu malas untuk menceritakannya kepada siapapun yang berwujud manusia. Terlalu malas melihat respon kebosanannya, karena kau tahu? sesungguhnya ini tentang orang yang sama dan sama lagi. Seseorang yang dalam beberapa post sebelum ini, aku berjanji untuk tidak akan lagi membuat postingan tentang dia lagi. Sepertinya aku mengulang kata lagi, ya?
Iya, aku tahu aku melanggar. Tapi, kau kan tahu aku, blog. Aku orang yang sangat labil....dan pelupa. Jadi mari membuat kesepakatan. Anggap saja yang sekarang aku sedang melupakan postingan beberapa waktu yang lalu itu, oke? Ayolah, lagipula perjanjian ini aku sendiri yang membuatnya. Dan bagian yang paling menyenangkan adalah tidak ada sangsi. Yeah. Harusnya kau tahu itu modus sejak ku-posting beberapa waktu yang lalu tanpa membuat sangsi.
  "Dan kenapa saya sangat sentimentil di postingan ini? Ya, karena ini akan menjadi postingan terakhir tentang kamu."
Hahaha, harusnya kau sadar  itu terlalu drama dan memang aku sengaja  tidak ada sangsi agar aku bisa leluasa melanggar suatu hari, seperti sekarang. Lagipula ini masalah perasaan bukan kebijakan. Apa kita benar-benar butuh sangsi? Oh, syukurlah aku tidak pernah berpikir mengambil fakultas hukum dulu.

Sabtu, 13 Juli 2013. 5 Ramadhan. 09.58am.
Aku baru terbangun dari tidur setelah sebelumnya melewatkan sahur karena terbangun bertepatan dengan adzan subuh. Setelah shalat dan jalan keliling rumah    aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya    aku kembali mencoba untuk tidur, tolong jangan ditiru. Beberapa artikel mengatakan bahwa tidur setelah sahur tidak baik untuk kesehatan. Tapi aku tidak peduli, aku mengantuk. Anggap saja aku sedang lupa bahwa aku mahasiswi kesehatan masyarakat.

Dan sekarang aku kembali terbangun dengan perasaan yang sangat tidak enak. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku merasakan seperti ini.
Aku memimpikannya, blog. memimpikannya    sengaja diulang biar deramah    Sial, banyak sekali orang dalam kehidupanku dan kenapa harus dia? Orang yang menyebabkan doaku tidak dikabulkan Allah, tidak masuk surga, dan tidak dirahmati Allah karena memutuskan tali silaturahim. Setidaknya itu yang selalu seseorang katakan padaku atas sikapku memutuskan segala akses komunikasi dengannya. Yang selalu kubalas dengan pembelaan kalau aku selalu mendoakannya agar baik-baik saja dan memang    untuk saat ini    aku rasa itu yang terbaik. Karena untuk saling menjangkau, sungguh terlalu menyiksaku.

Jadi biar kuvisualisasikan mimpiku tadi sebelum aku melupakannya karena aku punya masalah dengan ingatan (ya, aku terlalu sering mengatakannya)
Kau tentu pernah bermimpi kan? Oh, aku lupa kalau kau blog. Boro-boro bermimpi, perasaanpun kau tak punya. Kalau begitu kau, orang asing yang kebetulan membaca ini, kau tentu pernah bermimpi kan? Pasti kau paham susunan mimpi biasanya abstrak. Orang dan tempat berbeda biasanya berada dalam satu set.

Jadi ceritanya aku baru saja pulang dari PBL (pengalaman belajar lapangan) dan berkumpul di lapangan parkir mengumpulkan koper, menunggu jemputan. Anehnya yang aku lihat bukan lapangan parkir UIN, kampusku. Melainkan lapangan parkir Unhas. Aku ada disana dengan entahlah mungkin teman seangkatanku. Aku lupa. Semua terlalu samar-samar. Yang pasti, entah bagaimana bisa ada Inoy, Irma, Emi, dan Rere disana. Kami sedang menuju ke kantin setelah melakukan, ah, maaf aku lupa. Kita skip saja bisa kan? Jadi yang aku ingat kita sedang menuju kantin dan tiba-tiba settingan kantinnya menjadi kantin SD IKIP, SDku dulu. Kita masing-masing membeli pentolan, makan, membahas hal tidak penting, dan tertawa. Seperti biasanya. Setelah itu yang kuingat aku kembali berada di lapangan parkir Unhas itu. Entah apa yang terjadi, pada saat aku ingin berjalan menuju koperku, aku melihatnya disana. Berdiri bersama dua temannya yang juga kakak kelasku dulu.

Dia ada disana berdiri dan sedang bercanda dengan dua temannya itu. Dan aku merasa. Ah, aneh. Perasaan yang sama ketika dulu di sekolah, aku tidak sengaja melihatnya melintas di depan kelasku. Ketika aku tidak sengaja sedang bersandar di balkon depan kelas dan melihatnya bermain bola bersama teman-temannya. Ketika kami tidak sengaja berpapasan di koridor sekolah. Sial. Perasaan yang tidak pernah ingin kuulang. Salah, Ingin kuulang sih tetapi bukan karenanya.

Baiklah, ada satu hal yang ingin kuakui disini, yang mungkin tidak ada yang tahu kecuali Nishong. Aku pernah mencoba dengan orang lain    setelahnya. Semua nyaris sempurna. Ucapan selamat pagi saat baru bangun, ucapan mimpi indah saat ingin tidur. Bahkan lebih sering ketiduran karena keasikan membicarakan banyak hal. Saling terlarut dalam percakapan tidak penting pengantar tidur, dan hal-hal menjijikkan lainnya yang lazim dilakukan oleh dua orang yang memiliki kromosom berbeda. Ya, kau tahulah. Siklus itu. Awalnya menyenangkan bersama seseorang yang bahkan lebih menghapal jadwal kuliahmu dibanding dirimu sendiri. Tapi lama kelamaan, semua terasa hambar dan aku tahu aku tidak bisa melakukannya. Maka aku menghentikannya. Sebelum aku merasa terlalu jahat dengan orang ini.

Tadi, melihatnya berdiri dan ketawa    dengan caranya yang khas    bahkan lebih membuatku......deg-degan? Sial, ini bahkan hanya mimpi. Aku pun berjalan lurus menuju koperku dan menembus gerombolan manusia yang mungkin teman seangkatanku. Aku tidak begitu ingat, yang aku lihat disana sangat ramai dan hanya sosoknya dan dua orang temannya itu yang terlihat jelas. Aku berjalan dan berusaha tidak terlihat.

"Put..."
Suara teriakan yang sangat kuhapal. Yang dulu selalu kudengar ketika aku berjalan menuju kantin. Dan mereka, dia dan teman-temannya, itu sedang nongkrong di samping masjid. Suara milik salah seorang temannya. Aku terus berjalan berusaha tidak memperdulikannya. Tetap berjalan lurus menuju koperku. Sial, kenapa koper itu terasa sangat jauh?

"Put..."
Suara teriakan itu lagi. Aku menyerah dan berbalik. Yang aku lihat, tetap tiga orang laki-laki yang sedang melihat ke arahku sambil ketawa entah karena apa. Tapi bukan tiga orang yang tadi. Tetap ada dua orang temannya dan entah bagaimana ada satu lagi temanku (teman SMA yang tahu segala aibku tentang dia) tiba-tiba berdiri disana, menggantikan posisinya tadi. Kemana perginya dia? Aku berusaha terlihat santai dan menjawab dengan malas "Kenapaki sde deh!" Itu logat makassar, asalku. Kurang lebih maknanya sama dengan Kenapa lagi sih.

"Siniko dulu!!" Panggil mereka. Persis caranya biasa memanggilku dulu ketika perjalanan ke kantin yang kuceritakan tadi. Yang biasanya hanya berakhir percakapan tidak penting dan pertanyaan konyol dari mereka. Tapi aku selalu menyukainya. Karena itu cara lain untuk bisa melihatnya dari jarak yang lebih dekat.

"Mddh, Malaska" Jawabku tidak antusias.

"Ngapami ine, sini saiko!" Kata temanku yang tiba-tiba bergabung disana.

Akupun mengalah dan melangkah dengan malas ke arah mereka. Paling dijadikan bahan permainan lagi, batinku.

Ketika aku melangkah ke arahnya, sperti ada yang mengikuti langkahku di belakang. Dekat sekali. Aku bahkan dapat merasakan bunyi napasnya. Aku berbalik untuk mengecek dan benar saja, dia. Sekarang tatapan kami bertemu dan dia tersenyum. Senyum itu, Astaga. Aku bahkan lupa kapan terkahir kali kami sedekat ini dan dia tersenyum seperti itu kepadaku. Jantungku seperti mau copot. Demi Tuhan itu terasa sangat nyata. Perasaan yang sudah lama sekali tidak kurasakan. Tidak dengan siapapun. Hanya dia yang bisa membuatku deg-degan seperti ini. Aku seperti kembali ke usia 16. Dia tetap saja begitu, tersenyum. Aku tidak menanggapinya. Aku kembali memalingkan tatapanku ke depan dan kembali berjalan ke arah tiga orang itu. Semakin aku berjalan, yang kurasa semakin dia mengikutiku. Oh, Tuhan, bisa jarak ini dibuat lebih jauh agar aku bisa lebih lama diikutinya. Sial, aku bahkan masih mengharapkan hal-hal seperti itu.

Aku berjalan..berjalan..dan sampailah di mereka. Aku lupa apa percakapanku. Oh, sial. tadi aku mengingatnya. Mungkin aku terlalu lama mengetik ini semua. Yang jelas, dua kakak kelasku dan temanku itu menanyakanku pertanyaan-pertanyaan konyol, seperti biasanya. Dan dia? jangan tanya. Dia hanya diam di belakangku tetap dengan senyumnya dan sesekali ketawa karena menyimak percakapan. Oh, Tuhan, kenapa dia hanya diam? Tidak sekata pun yang dia ucapkan. Aku sangat merindukan suaranya. Sial, apa yang baru saja kukatakan? Hahaha.

Dan entah kenapa aku tiba-tiba kembali berada dengan irma, emi, dan banyak lagi yang tidak begitu jelas. Aku tidak melihat rere dan inoy. Tidak tahu kemana perginya mereka, jangan tanya. Ini kan cuma mimpi.

"Printernya siapa itu puthe?" tanya salah seorang teman posko ku. Entahlah aku tidak begitu mengingatnya. Kalau bukan Akmal depertinya Dhika.

"Printernyaa....siapa di'?" Bahkan di mimpi pun aku pelupa.

"Printerku." Jawab Irma dengan ekspresi yakin. Ekspresi yang sama persis ketika dia mengatakan arogan itu sombong.

"Oh, iya. Printernya Irma..." Jawabku kepada teman posko ku. Irma kemudian terlihat menahan ketawa. Kenapa? Apa yang lucu?

"Printerku kah?" Tanyanya dengan ketawa yang ditahan.

"Ih?" Jawabku kebingungan. "Printernya siapa pae?" Tanyaku kembali.

"Printernya Ikbal, tolooo!" Sahut Irma dan Emi bersamaan. Disusul dengan ledakan tawa dari mereka. Akupun ikut ketawa. kami bertiga ketawa. Aku bahkan tidak tahu apa yang begitu lucu tapi kami semua ketawa. Ketawa dengan lepas. Siapa pula ikbal itu? Mimpi yang aneh.

Aku pun berbalik, mencari sosoknya. Tapi dia sudah tidak ada. Mereka sudah tidak ada. Hanya ada pohon besar, dan beberapa pete-pete yang mengangkut kami tadi, serta kerumunan orang yang masih tidak terlihat jelas. Sangat ramai yang aku lihat. Tapi dia tidak lagi ada. Tidak tahu kemana perginya mereka, jangan tanya. Ini kan cuma mimpi.

Yang aku ingat, ramai sekali, ramai. bising. Tapi kenapa aku terbangun dengan merasa sepi?






Dan sekarang aku disini. Di pojok melek mencoba mentransfer dimensi mimpi menjadi dimensi aksara sebisaku. Aku masih ingat bagaimana perasaanku sangat bangun tadi. Sunguuh tidak enak. Yang perlu kau tahu, blog. Sudah lama aku tidak memperdulikannya. Dia sudah tidak begitu penting bagiku. Aku serius. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku 'singgah di timeline'nya. Cara yang selalu kulakukan untuk menebus dosa memutuskan silaturahimku. Aku rasa memang betul, waktu adalah obat yang paling ampuh untuk segalanya.

Pidi baiq seperti tidak capek menyanyikan bunyi sepi berulang kali dari blackberryku.


Aku disini tak ingin rindu, tentang banyak hal menyangkut dirimu.
Tak mau tahu apa kabarmu, tetapi kau usik sunyiku.Tak mau tahu siapa denganmu, tetapi kau ganggu diamku.


Mungkin lirik sunyi dan diam lebih cocok bila kuganti tidur. Hahaha, aku memang suka mendramatisir beberapa hal.

Sedang bingung menentukan baru saja mimpi buruk atau indah,
-poetry-

Thursday, December 20, 2012

saya sedang bingung.

Monday, November 19, 2012

Are We Really a Human?


It's pathetic.
Knowing things getting worse and worse day by day in gaza,
is really makes me hurt.

But it's more pathetic.
Knowing i'm 20 yo. which is so in productive age,
but all I can do just feel sad?

I always wanna update something like "pray for gaza - save palestine"              but  knowing the only thing that I can do just 'pray'. It is embarrassing.



in the name of humanity,
-poetry-

Thursday, November 15, 2012

Happy Islamic New Year 1434 H



As time goes by.
We're getting older.
We're grown up with a bunch of sin and pahala.
I still far away from perfection and I know I won't get there.
But I do believe in the end of this journey.
That will be an end of a bunch bitter-sweet on this life.
Let's move. Let's grow up.
And being human being :)



with love,
-poetry-

Saturday, November 3, 2012

Entah

Ajari aku untuk menjadi dia.
agar selalu kau dambakan tanpa harus kurisaukanmu.

Tapi, sesekali..
kau harus belajar menjadi aku
agar kau rasa betapa menyedihkan mendambakanmu

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.
Tapi aku bukan daun
Aku tidak sebodoh daun

Mungkin aku adalah pohon
Aku adalah alasan hingga kau bisa bernapas sampai saat ini
Aku donatur oksigen terbesar di sistem pernapasan mu.

Tapi apa yang kau lakukan pada pohon ini?
Kau bahkan tak sudi lagi menyempatkan waktu untuk sekadar menyiram akarku.
Untuk melihat keadaanku
adakah kau resah akan gersangku saat ini?

Aku tahu waktu mengubah segalanya.
Tapi bila sempat, coba kau tengok pohon ini sebentar.
Coba kau lihat akarku.
Aku sudah terlalu lelah.
Aku lelah berfotosintesis untukmu

Aku rindu dulu,
saat aku adalah tempatmu mencari oksigen yang utama.
saat aku adalah tempat favoritmu untuk berteduh.

Apa yang terjadi padamu?
Pada kita mungkin?
Apakah kau menjadi seperti orang kebanyakan?
Yang mulai lelah bersahabat dengan pohon
Atau kau mulai menemukan pohon yang baru?
yang lebih rindang dariku

Jangan salahkan aku
Pemanasan global bukanlah keinginanku

mungkin ini klimaks dari segalanya.
titik didih dari segala pengkhianatan

Apakah daun yang jatuh benar-benar tidak membenci angin?
Pernahkah kau memikirkannya?

Dwi Putri Nursetyaningsih



Wednesday, October 3, 2012

ani-ask-to project

yuhuu, everyone.
misyu!

akhir-akhir ini otak lagi nyaris 'njelimet.
too much to think.
terlalu banyak fokus jadinya semua nyaris blur.

oh ya.
ani suruh sy bikin ini buat ultah boyfie nya.
what do you think?
ini ani

ini uri

ini ani dan uri

how lucky you, uri. 
kamu cowok pertama yaa yang sy buatin ilustrasi. *agak ga rela*

longlast guys,
-poetry-

Monday, September 17, 2012

11 September 2012

Happy birthday to me!
1 phonecall, 9 text messages, 58 blackberry messengers, 29 mentions, 22 walls on facebook. Thanks for all of that kind words, people :)

Thank you my dear Cameron :* #selfkeplak
hihi thanks @itsnasyamsi :)
hahahaha they sing this song to me :')
Birthday girl? yes, I am!
This made by mas-mas pizza nya. Unyu, isn't it?
gals :*
full formation
cake day!

and I got so many present. it felt like an elementary again :"

this unyu pillow handmade by @_nisanurul

this monyet bersayap daun from indro

this the most wanted antologi rasa from ani and pani :)

this pop-up monkey doll from dua sejoli kak ian and mimin :)

you've made my day,
-poetry-